October 1, 2006

Teladan dari Umar bin Abdul Aziz

Update 2008

- Artikel lain tentang Umar bin Abdul Aziz dapat dibaca disini, dan lanjutannya disini.

- Selain itu juga ada tulisan karya Mashadi yang berjudul “Mencintai Rakyatnya Melebihi Dirinya”.

Pengantar :

Umar bin Abdul Aziz r.a. adalah salah seorang pemimpin yang saya pilih sebagai sosok yang patut diteladani. Pertama kali saya mengetahui prestasinya adalah ketika saya membaca buku “Fikih Prioritas” karangan Dr. Yusuf al-Qaradhawi lebih dari sepuluh tahun yang lalu.

Dalam bab “Prioritas Kualitas dari pada Kuantitas”, disebutkan bahwa :

hanya dalam masa tiga puluh bulan –yakni seluruh masa pemerintahannya– Umar bin Abdul Aziz mampu memberikan contoh keadilan dan sekaligus petunjuk; menghancurkan bibit-bibit kedurhakaan dan kesesatan; menolak setiap kezaliman; memantapkan hak-hak pada pemiliknya; mengembalikan kepercayaan orang kepada Islam; memberikan rasa aman pada jiwa manusia dari rasa ketakutan; memberi makan orang-orang karena kelaparan; dan menciptakan kehidupan yang sejahtera sehingga para pemilik harta kekayaan bertanya-tanya, “Kemana kami harus membayarkan zakat?”, sebab Allah telah memberikan kekayaan kepada mereka.

Jadi pada akhir masa pemerintahannya yang relatif singkat–tidak sampai lima tahun sebagaimana lazimnya sebuah periode pemerintahan–sudah tidak bisa didapati lagi ada orang-orang miskin di wilayah kekuasaannya.

Ini prestasi yang sungguh teramat luar biasa, yang sejauh ini belum saya temukan lagi ada tokoh lain dalam sejarah yang mampu menghasilkan prestasi seperti itu. Sayangnya, dalam buku Dr. Qaradhawi tidak dibahas bagaimana langkah-langkah yang ditempuh oleh Umar bin Abdul Aziz sehingga mampu mencetak prestasi yang begitu fenomenal. Di toko-toko buku pun belum saya temukan ada buku biografi yang komprehensif tentang tokoh ini.

Alhamdulillah, beberapa hari yang lalu di sebuah milis saya menemukan tulisan yang mengulas tentang bagaimana sebenarnya langkah-langkah yang dijalankan oleh Umar bin Abdul Aziz sehingga beliau mampu mengentaskan kemiskinan di wilayah kekuasaannya. Saya copy seluruh tulisan tersebut di bawah ini, dengan harapan semoga dapat menjadi inspirasi yang bermanfaat bagi kita semua.

Ekonomi yang Membahagiakan

Oleh : Taufik Muhammad

Mengupas sejarah reformasi ekonomi Umar bin Abdul Aziz, dan mengapa kita gagal?

Umar bin Abdul Aziz muncul di persimpangan sejarah umat Islam di bawah kepemimpinan dinasti Bani Umayyah. Pada penghujung abad pertama hijriyah, dinasti ini memasuki usianya yang keenam puluh, atau dua pertiga dari usianya,

dan telah mengalami pembusukan internal yang serius. Umar sendiri adalah bagian dari dinasti ini, hampir dalam segala hal. Walaupun pada dasarnya ia seorang ulama yang telah menguasai seluruh ilmu ulama-ulama Madinah, tapi secara pribadi ia juga merupakan simbol dari gaya hidup dinasti Bani Umayyah yang korup, mewah dan boros.

Itu membuatnya tidak cukup percaya diri untuk memimpin ketika keluarga kerajaan memintanya menggantikan posisi Abdul Malik Bin Marwan setelah beliau wafat. Bukan saja karena persoalan internal kerajaan yang kompleks, tapi juga karena ia sendiri merupakan bagian dari persoalan tersebut. Ia adalah bagian dari masa lalu. Tapi pilihan atas dirinya, bagi keluarga kerajaan, adalah sebuah keharusan. Karena Umar adalah tokoh yang paling layak untuk posisi ini.

Ketika akhirnya Umar menerima jabatan ini, ia mengatakan kepada seorang ulama yang duduk di sampingnya, Al-Zuhri, “Aku benar-benar takut pada neraka.” Dan sebuah rangkaian cerita kepahlawanan telah dimulai dari sini, dari ketakutan pada neraka, saat beliau berumur 37 tahun, dan berakhir dua tahun lima bulan kemudian, atau ketika beliau berumur 39 tahun, dengan sebuah fakta: reformasi total telah dilaksanakan, keadilan telah ditegakkan dan kemakmuran telah diraih.

Ulama-ulama kita bahkan menyebut Umar Bin Abdul Aziz sebagai pembaharu abad pertama hijriyah, bahkan juga disebut sebagai khulafa rasyidin kelima.

Mungkin indikator kemakmuran yang ada ketika itu tidak akan pernah terulang kembali, yaitu ketika para amil zakat berkeliling di perkampungan-perkampungan Afrika, tapi mereka tidak menemukan seseorang pun yang mau menerima zakat.

Negara benar-benar mengalami surplus, bahkan sampai ke tingkat dimana utang-utang pribadi dan biaya pernikahan warga pun ditanggung oleh negara.

1. Memulai dari Diri Sendiri, Keluarga dan Istana

Umar bin Abdul Aziz menyadari dengan baik bahwa ia adalah bagian dari masa lalu. Ia tidak mungkin sanggup melakukan perbaikan dalam kehidupan negara yang luas kecuali kalau ia berani memulainya dari dirinya sendiri, kemudian melanjutkannya pada keluarga intinya dan selanjutnya pada keluarga istana yang lebih besar.

Maka langkah pertama yang harus ia lakukan adalah membersihkan dirinya sendiri, keluarga dan istana kerajaan. Dengan tekad itulah ia memulai sebuah reformasi besar yang abadi dalam sejarah.

Begitu selesai dilantik Umar segera memerintahkan mengembalikan seluruh harta pribadinya, baik berupa uang maupun barang, ke kas negara, termasuk seluruh pakaiannya yang mewah. Ia juga menolak tinggal di istana, ia tetap menetap di rumahnya. Pola hidupnya berubah secara total, dari seorang pencinta dunia menjadi seorang zahid yang hanya mencari kehidupan akhirat yang abadi. Sejak berkuasa ia tidak pernah lagi tidur siang, mencicipi makanan enak. Akibatnya, badan yang tadinya padat berisi dan kekar berubah menjadi kurus dan ceking.

Setelah selesai dengan diri sendiri, ia melangkah kepada keluarga intinya. Ia memberikan dua pilihan kepada isterinya, “Kembalikan seluruh perhiasan dan harta pribadimu ke kas negara, atau kita harus bercerai.” Tapi istrinya, Fatimah Binti Abdul Malik, memilih ikut bersama suaminya dalam kafilah reformasi tersebut. Langkah itu juga ia lakukan dengan anak-anaknya. Suatu saat anak-anaknya memprotesnya karena sejak beliau menjadi khalifah mereka tidak pernah lagi menikmati makanan-makanan enak dan lezat yang biasa mereka nikmati sebelumnya. Tapi Umar justeru menangis tersedu-sedu dan memberikan dua pilihan kepada anak-anak, “Saya beri kalian makanan yang enak dan lezat tapi kalian harus rela menjebloskan saya ke neraka, atau kalian bersabar dengan makanan sederhana ini dan kita akan masuk surga bersama.”

Selanjutnya, Umar melangkah ke istana dan keluarga istana. Ia memerintahkan menjual seluruh barang-barang mewah yang ada di istana dan mengembalikan harganya ke kas negara. Setelah itu ia mulai mencabut semua fasilitas kemewahan yang selama ini diberikan ke keluarga istana, satu per satu dan perlahan-lahan. Keluarga istana melakukan protes keras, tapi Umar tetap tegar menghadapi mereka. Hingga suatu saat, setelah gagalnya berbagai upaya keluarga istana menekan Umar, mereka mengutus seorang bibi Umar menghadapnya. Boleh jadi Umar tegar menghadapi tekanan, tapi ia mungkin bisa terenyuh menghadapi rengekan seorang perempuan. Umar sudah mengetahui rencana itu begitu sang bibi memasuki rumahnya. Umar pun segera memerintahkan mengambil sebuah uang logam dan sekerat daging. Beliau lalu membakar uang logam tersebut dan meletakkan daging diatasnya. Daging itu jelas jadi “sate.” Umar lalu berkata kepada sang bibi: “Apakah bibi rela menyaksikan saya dibakar di neraka seperti daging ini hanya untuk memuaskan keserakahan kalian? Berhentilah menekan atau merayu saya, sebab saya tidak akan pernah mundur dari jalan reformasi ini.”

Langkah pembersihan diri, keluarga dan istana ini telah meyakinkan publik akan kuat political will untuk melakukan reformasi dalam kehidupan bernegara, khususnya dalam pembersihan KKN. Sang pemimpin telah telah menunjukkan tekadnya, dan memberikan keteladanan yang begitu menakjubkan.

2. Gerakan Penghematan

Langkah kedua yang dilakukan Umar Bin Abdul Aziz adalah penghematan total dalam penyelenggaraan negara.

Langkah ini jauh lebih mudah dibanding langkah pertama, karena pada dasarnya pemerintah telah menunjukkan kredibilitasnya di depan publik melalui langkah pertama. Tapi dampaknya sangat luas dalam menyelesaikan krisis ekonomi yang terjadi ketika itu.

Sumber pemborosan dalam penyelenggaraan negara biasanya terletak pada struktur negara yang tambun, birokrasi yang panjang, administrasi yang rumit. Tentu saja itu disamping gaya hidup keseluruhan dari para penyelenggara negara. Setelah secara pribadi beliau menunjukkan tekad untuk membersihkan KKN dan hidup sederhana, maka beliau pun mulai membersihkan struktur negara dari pejabat korup. Selanjutnya beliau merampingkan struktur negara, memangkas rantai birokrasi yang panjang, menyederhanakan sistem administrasi. Dengan cara itu negara menjadi sangat efisien dan efektif.

Simaklah sebuah contoh bagaimana penyederhanaan sistem administrasi akan menciptakan penghematan. Suatu saat gubernur Madinah mengirim surat kepada Umar Bin Abdul Aziz meminta tambahan blangko surat untuk beberapa keperluan adminstrasi kependudukan. Tapi beliau membalik surat itu dan menulis jawabannya, “Kaum muslimin tidak perlu mengeluarkan harta mereka untuk hal-hal yang tidak mereka perlukan, seperti blangko surat yang sekarang kamu minta.”

3. Redistribusi Kekayaan Negara

Langkah ketiga adalah melakukan redistribusi kekayaan negara secara adil.

Dengan melakukan restrukturisasi organisasi negara, pemangkasan birokrasi, penyederhanaan sistem administrasi, pada dasarnya Umar telah menghemat belanja negara, dan pada waktu yang sama, mensosialisasikan semangat bisnis dan kewirausahaan di tengah masyarakat. Dengan cara begitu Umar memperbesar sumber-sumber pendapatan negara melalui zakat, pajak dan jizyah.

Dalam konsep distribusi zakat, penetapan delapan objek penerima zakat atau mustahiq, sesungguhnya mempunyai arti bahwa zakat adalah sebentuk subsidi langsung. Zakat harus mempunyai dampak pemberdayaan kepada masyarakat yang berdaya beli rendah. Sehingga dengan meningkatnya daya beli mereka, secara langsung zakat ikut merangsang tumbuhnya demand atau permintaan dari masyarakat, yang selanjutnya mendorong meningkatnya suplai. Dengan meningkatnya konsumsi masyarakat, maka produksi juga akan ikut meningkat. Jadi, pola distribusi zakat bukan hanya berdampak pada hilangnya kemiskinan absolut, tapi juga dapat menjadi faktor stimulan bagi pertumbuhan ekonomi di tingkat makro.

Itulah yang kemudian terjadi di masa Umar Bin Abdul Aziz. Jumlah pembayar zakat terus meningkat, sementara jumlah penerima zakat terus berkurang, bahkan habis sama sekali. Para amil zakat berkeliling di pelosok-pelosok Afrika untuk membagikan zakat, tapi tak seorang pun yang mau menerima zakat. Artinya, para mustahiq zakat benar-benar habis secara absolut. Sehingga negara mengalami surplus. Maka redistribusi kekayaan negara selanjutnya diarahkan kepada subsidi pembayaran utang-utang pribadi (swasta), dan subsidi sosial dalam bentuk pembiayaan kebutuhan dasar yang sebenarnya tidak menjadi tanggungan negara, seperti biaya perkawinan. Suatu saat akibat surplus yang berlebih, negara mengumumkan bahwa “negara akan menanggung seluruh biaya pernikahan bagi setiap pemuda yang hendak menikah di usia muda.”

Mengapa sejarah tak berulang?

Sejarah selalu hadir di depan kesadaran kita dengan potongan-potongan zaman yang cenderung mirip dan terduplikasi. Pengulangan-pengulangan itu memungkinkan kita menemukan persamaan-persamaan sejarah, sesuatu yang kemudian memungkinkan kita menyatakan dengan yakin, bahwa sejarah manusia sesungguhnya diatur oleh sejumlah kaidah yang bersifat permanen. Manusia, pada dasarnya, memiliki kebebasan yang luas untuk memilih tindakan-tindakannya. Tetapi ia sama sekali tidak mempunya kekuatan untuk menentukan akibat dari tindakan-rindakannya. Tetapi karena kapasitas manusia sepanjang sejarah relatif sama saja, maka ruang kemampuan aksinya juga, pada akhirnya, relatif sama.

Itulah sebab yang memungkinkan terjadinya pengulangan-pengulangan tersebut. Tentu saja tetap ada perbedaan-perbedaan waktu dan ruang yang relatif sederhana, yang menjadikan sebuah zaman tampak unik ketika ia disandingkan dengan deretan zaman yang lain.

Itu sebabnya Allah Subhaanahu wa ta’ala memerintahkan kita menyusuri jalan waktu dan ruang, agar kita dapat merumuskan peta sejarah manusia, untuk kemudian menemukan kaidah-kaidah permanen yang mengatur dan mengendalikannya. Kaidah-kaidah permanen itu memiliki landasan kebenaran yang kuat, karena ia ditemukan melalui suatu proses pembuktian empiris yang panjang. Bukan hanya itu, kaidah-kaidah permanen itu sesungguhnya juga mengatur dan mengendalikan kehidupan kita. Dengan begitu sejarah menjadi salah satu referensi terpenting bagi kita, guna menata kehidupan kita saat ini dan esok.

Sejarah adalah cermin yang baik, yang selalu mampu memberi kita inspirasi untuk menghadapi masa-masa sulit dalam hidup kita. Seperti juga saat ini, ketika bangsa kita sedang terpuruk dalam krisis multidimensi yang rumit dan kompleks, berlarut-larut dan terasa begitu melelahkan. Ini mungkin saat yang tepat untuk mencari sepotong masa dalam sejarah, dengan latar persoalan-persoalan yang tampak mirip dengan apa yang kita hadapi, atau setidak-tidaknya pada sebagian aspeknya, untuk kemudian menemukan kaidah permanen yang mengatur dan mengendalikannya.

Masalah di Ujung Abad

Ketika Rasulullah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam menyatakan sebuah ketetapan sejarah, bahwa di ujung setiap putaran seratus tahun Allah Swt akan membangkitkan seorang pembaharu yang akan akan mempebaharui kehidupan keagamaan umat ini. Ketetapan itu menjadikan masa satu abad sebagai sebuah besaran waktu yang memungkinkan terjadinya pengulangan-pengulangan masalah, rotasi pola persoalan-persoalan hidup. Ketetapan itu juga menyatakan adanya fluktuasi dalam sejarah manusia, masa pasang dan masa surut, masa naik dan masa turun. Dan titik terendah dari masa penurunan itulah Allah Swt akan membangkitkan seorang pembaharu yang menjadi lokomotif reformasi dalam kehidupan masyarakat.

Itulah yang terjadi di ujung abad pertama hijriyah dalam sejarah Islam. Sekitar enam puluh tahun sebelumnya, masa khulafa rasyidin telah berakhir dengan syahidnya Ali bin Abi Thalib. Muawiyah bin Abi Sofyan yang kemudian mendirikan dinasti Bani Umayyah di Damaskus, mengakhiri sistem khilafah dan menggantinya dengan sistem kerajaan. Pemimpin tertinggi dalam masyarakat Islam tidak lag dipilih, tapi ditetapkan.

Perubahan pada sistem politik ini berdampak pada perubahan perilaku politik para penguasa. Secara perlahan mereka menjadi kelompok elit politik yang eksklusif, terbatas pada jumlah tapi tidak terbatas pada kekuasaan, sedikit tapi sangat berkuasa. Sistem kerajaan dengan berbagai perilaku politik yang menyertainya, biasanya secara langsung menutup katup politik dalam masyarakat dimana kebebasan berekspresi secara perlahan-lahan dibatasi, atau bahkan dicabut sama sekali. Itu memungkinkan para penguasa menjadi tidak tersentuh oleh kritik dan tidak terjangkau oleh sorot mata masyarakat. Tidak ada keterbukaan, tidak ada transparansi.

Dalam keadaan begitu para penguasa memiliki keleluasaan untuk melakukan apa saja yang mereka ingin lakukan. Maka penyimpangan politik segera berlanjut dengan penyimpangan ekonomi. Kezaliman dalam distribusi kekuasaan dengan segera diikuti oleh kezaliman dalam distribusi kekayaan. Yang terjadi pada mulanya adalah sentralisasi kekuasaan, tapi kemudian berlanjut ke sentralisasi ekonomi.

Keluarga kerajaan menikmati sebagian besar kekayaan negara. Apa yang seharusnya menjadi hak-hak rakyat hanya mungkin mereka peroleh berkat “kemurahan hati” pada penguasa, bukan karena adanya sebuah sistem ekonomi yang memungkinkan rakyat mengakses sumber-sumber kekayaan yang menjadi hak mereka. Bukan hanya KKN yang terjadi dalam keluarga kerajaan, tapi juga performen lain yang menyertainya berupa gaya hidup mewah dan boros. Negara menjadi tidak efisien akibat pemborosan tersebut. Dan pemborosan, kata ulama-ulama kita, adalah indikator utama terjadinya kezaliman dalam distribusi kekayaan. Jadi ada pemerintahan yang korup sekaligus zhalim, penuh KKN sekaligus mewah dan boros, tidak bersih, tidak efisien dan tidak adil.

Itulah persisnya apa yang terjadi pada dinasti Bani Umayyah. Berdiri pada tahun 41 hijriyah, dinasti Bani Umayyah berakhir sekitar 92 tahun kemudian, atau tepatnya pada tahun 132 hijriyah. Tapi sejarah dinasti ini tidaklah gelap seluruhnya. Dinasti ini juga mempunyai banyak catatan cemerlang yang ia sumbangkan bagi kemajuan peradaban Islam. Salah satunya adalah cerita sukses yang tidak terdapat atau tidak pernah terulang pada dinasti lain ketika seorang laki-laki dari klan Bani Umayyah, dan merupakan cicit dari Umar Bin Khattab, yaitu Umar Bin Abdul Aziz, muncul sebagai khalifah pada penghujung abad pertama hijriyah.

Yang dilakukan oleh Umar bin Abdul Aziz adalah mempertemukan keadilan dengan kemakmuran. Ketika pemimpin yang saleh dan kuat dihadirkan di persimpangan sejarah, untuk menyelesaikan krisis sebuah umat dan bangsa. Dan itu bisa saja terulang, kalau syarat dan kondisi yang sama juga terulang. Dan inilah masalah kita, pengulangan sejarah itu tidak terjadi, karena syaratnya tidak terpenuhi…

November 28, 2008

INSPIRED

“When you are inspired by some great purpose,
some extraordinary project,
all your thoughts break their bonds:
Your mind transcends limitations,
your consciousness expands in every direction,
and you find yourself in a new, great, and wonderful world.

Dormant forces, faculties and talents become alive,
and you discover yourself
to be a greater person by far
than you ever dreamed yourself to be.”

- – Patanjali

shared by Andre.S, one of my high school best friend, 26.11.08

November 22, 2008

The Way of Business

selama manusia itu masih punya kebutuhan, keinginan, dan harapan, selalu ada bisnis baru untuk dimulai dan dijalankan !

November 17, 2008

PERSEVERE

PERSEVERE

Drive the nail aright boys,
Hit it on the head !
Strike with all your might boys,
While the iron’s red.

When there’s work to do boys,
Do it with a will.
Those who reach the top boys,
First must climb the hill.

Standing at the foot boys,
Gazing at the sky.
How can you get up boys,
If you never try.

Though you stumble oft boys,
Never be downcast.
Try and try again boys,
You’ll succeed at last!

shared by Mr. Ronald Iskandar, my SMA english teacher, circa 1990

November 7, 2008

Ketemu Orang-orang Hebat

Tanggal 4-5 November kemarin saya beruntung bisa ikut mendampingi ayah saya untuk menerima satyalencana pembangunan di Jakarta.

Karena dalam kesempatan itu saya bisa bertemu dan berkenalan dengan para penerima lencana lainnya, orang-orang hebat dari beberapa wilayah di Indonesia yang secara konsisten telah berkarya dan membuat prestasi luar biasa di bidang lingkungan hidup.

Beberapa pelajaran penting yang bisa saya serap dari mereka semua ini antara lain :

1. Mereka semua melakukan pekerjaannya dengan tulus dan tanpa pamrih, tanpa mencari keuntungan pribadi atau mengejar penghargaan/pujian dari pihak lain.
Justru dengan begitulah, mereka malah mendapatkan berbagai penghargaan maupun keuntungan.

2. Siapa saja yang peduli pada alam dan lingkungan hidup, mau bersusah payah menjaga, melindungi dan memelihara kelestariannya, mau berjuang tanpa kenal takut, lelah, bosan atau putus asa untuk mengatasi masalah-masalah lingkungan yang tidak dilihat dan dipedulikan oleh orang lain, pada akhirnya akan diangkat derajatnya oleh Allah swt lebih tinggi daripada orang kebanyakan.

Maka benar sekali apa yang pernah diucapkan oleh Rasulullah saw. : sayangi apa yang ada di muka bumi, maka yang ada di langit akan sayang kepadamu.

3. Bidang lingkungan hidup dengan segala permasalahannya ternyata menyediakan begitu banyak peluang kerja dan entrepreneurship yang bisa digarap.

Banyak masalah-masalah lingkungan hidup itu juga terkait erat dengan bidang-bidang sosial lainnya seperti kesehatan, pendidikan, pemberdayaan perempuan, ekonomi, kesejahteraan masyarakat, dan lain-lain, yang memang sejak kita merdeka sampai sekarang ini masih belum beres juga.

Seperti yang dikatakan salah seorang penerima lencana dari Flores, banyak sekali pekerjaan yang mesti dikerjakan !

4. Jangan hanya mengeluhkan keadaan, tapi berbuatlah sesuatu untuk merubah keadaan itu, dimulai dari diri sendiri ! Sebab — seperti tertulis dalam Al Qur’an surah Ar-Ra’d ayat 11 — Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang berusaha untuk mengubahnya.

Beratnya masalah-masalah lingkungan yang mesti diatasi oleh para penerima lencana itu sungguh mencengangkan saya, tapi mereka semua begitu tangguh, ulet dan tahan banting menghadapinya.

Mereka tidak duduk diam menunggu bantuan orang lain, tidak berkeluh-kesah, tidak omong panjang lebar sana-sini mengkritik pihak lain, tidak berdebat tarik urat leher di layar tipi, tidak unjuk rasa dan bertindak anarkis yang merugikan orang lain, tapi langsung turun tangan, bergerak, bekerja sama dengan orang lain untuk memecahkan masalahnya dan mengubah keadaan.

5. Meski tidak semua penerima lencana itu beragama Islam, tapi mereka semua sudah menunjukkan bagaimana seharusnya seorang muslim itu : menjadi rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin), dengan menjaga kelestarian alam dan lingkungan, juga menyayangi makhluk-makhluk Allah : tumbuhan, hewan dan sesama manusia.

Sangat luar biasa dan inspirasional ! Alhamdulillah !

October 30, 2008

Simpel, Esensial dan Estetik

Ada imel menarik dari seorang teman pagi ini, tentang rental space/room yang ada di Jepang. Kata teman saya itu : simple but ….. leutik pisan…. (simpel tapi ….. kecil banget….).

Memang betul, kalau melihat foto-fotonya, ukuran ‘rumah’ ini kecil sekali. Mungkin hanya cukup untuk ditinggali oleh satu orang saja.

Tapi ini bisa menjadi salah satu solusi yang bagus buat memenuhi kebutuhan orang akan tempat tinggal yang harganya lebih terjangkau. Dan di kota metropolitan yang padat penduduk seperti Jakarta misalnya, ini juga bisa menjadi solusi yang layak untuk mereka yang terpaksa harus tinggal di bantaran sungai, kolong jembatan/jalan tol, atau pinggiran rel keretapi.

Kalau dilihat dari fotonya, membangun tempat tinggal seperti ini kelihatannya cukup mudah dan ekonomis, tidak perlu biaya besar dan waktu yang lama, jadi bisa ditawarkan dengan harga yang lebih miring dibandingkan dengan rumah biasa.

Meskipun bentuknya simpel, tapi sangat esensial dan estetik, dan tentunya juga nyaman !