May 14, 2006...1:10 am

Kenangan Plesir ke Singapore (2)

Berperahu sepanjang Singapore River (lanjutan)
Seperti biasanya, saya sangat menikmati perjalanan di atas air, di sungai apalagi di tengah laut (asal cuacanya baik). Apakah saya ini dulunya seekor ikan, atau bebek, saya tidak tahu….yang jelas kalau naik perahu atau kapal, dan melihat air di sekeliling saya, saya merasa amat tenteram. Begitu juga di Singapore River ini. Apalagi sambil mengamati pemandangan sepanjang sungai. Sayangnya, rekaman kaset suara pemandu wisata yang disetel oleh tukang perahu tidak terlalu terdengar dengan jelas karena kalah bersaing dengan suara motor perahu. Jadi story behind spot-spot penting yang ada di sepanjang sungai tidak semuanya bisa saya dapatkan.

singaporebridges2.jpg

Apa yang paling gampang teringat dari tour menyusuri Singapore River ini adalah jembatan-jembatan yang jumlahnya lumayan banyak membentang di atas sungai ini. Entah berapa jumlah persisnya, mungkin ada sekitar 10-an kali. Buat saya, jumlah ini rasanya cukup banyak untuk ukuran sungai sepanjang itu. Meski begitu, tiap jembatan yang melintasi sungai tidak sama desain konstruksinya. Ada yang bergaya klasik kolonial, modern minimalis, terbuat dari rangka besi-baja, beton, berbentuk lurus, melengkung, dengan atau tanpa cantilever, bahkan ada juga yang dicat warna-warni seperti kalau lagi karnaval. Ini tentu sangat menarik, dan kebetulan kamera digital yang saya bawa juga punya kemampuan wide-angle yang sangat baik, akhirnya saya puas-puasin diri memotret jembatan-jembatan itu dari angle yang tidak biasa. Dasar Singapore…jembatan saja dibikin jadi obyek yang menarik! Berbeda dengan di Indonesia, di mana desain jembatan-jembatan yang ada dalam kota biasanya sama, kecuali yang peninggalan kolonial Belanda.

singaporebridges.jpg

Perjalanan menyusuri sungai makan waktu sekitar 2 jam, dimulai dari Clarke Quay ke arah hilir melewati Boat Quay, sampai ke Marina Bay, berputar lagi ke arah hulu sampai Robertson Quay lalu kembali ke arah Clarke Quay. Ikon Singapore yaitu Merlion ada di daerah Marina Bay. Kelihatan juga gedung opera Singapore yang baru, Esplanade, dengan bentuknya yang unik, mirip buah durian raksasa. Ada-ada saja…kalau di Jeddah saya sempat lihat ada patung sepeda raksasa (menurut pak mutawwif itu sepedanya nabi Adam) dan patung gurita raksasa, sekarang malah lihat duren raksasa…Yang tahu tugu Monas dan gedung parlemen kita itu simbol apa, pasti udah senyam-senyum sendiri sambil mikir : ah, kita juga nggak kalah tuh sama mereka kalau soal adu-aduan monumen ukuran raksasa sih… :) )

Yang saya lihat, area sepanjang bantaran Singapore River ini betul-betul ditata dengan baik dan dijaga kebersihannya untuk pedestrian dengan pepohonan yang rimbun, taman, dan tempat makan. Kalau siang hari ternyata memang tidak banyak orang yang berkunjung ke sini, sebab mereka memilih waktu malam hari yang suasananya lebih romantis dan mungkin supaya nggak kepanasan juga. Selain itu ada cukup banyak bangunan bersejarah yang letaknya tersebar sepanjang sungai, misalnya saja The Fullerton Hotel yang dulunya adalah gedung parlemen, ruko-ruko dengan arsitektur tradisional China yang sekarang jadi tempat makan, dan bekas gudang-gudang penyimpanan barang dagangan di jaman kolonial Inggris dulu. Kalau melihat bekas gudang-gudang penyimpanan itu, kita jadi paham kalau kata “Quay” itu artinya dermaga.

Night Safari
Malam harinya, kami pergi ke Night Safari. Kebetulan, saya memang ingin tahu seperti apa sih rasanya wisata malam melihat binatang liar itu, sebab saya belum sempat berkunjung ke Taman Safari Indonesia yang sebetulnya juga punya atraksi seperti di Singapore ini.

Kami dijemput dari hotel menggunakan feeder bus untuk berangkat ke tempat berkumpul. Dari tempat ini kami lalu menuju lokasi Night Safari bersama-sama rombongan lain dengan bus besar. Sepanjang perjalanan, Kumar si pemandu wisata terus berceloteh tentang tempat-tempat menarik yang dilalui bus, juga sedikit cerita tentang Night Safarinya.

Yang masih saya ingat dari cerita Kumar adalah tentang satu daerah kompleks apartemen yang dibangun oleh pemerintah Singapore sejak tahun 1970-an. Pada saat itu pemerintah di sana sudah melihat gelagat perlunya segera membangun apartemen untuk tempat tinggal penduduk karena luas lahan Singapore terbatas. Antisipasi pemerintah sejak jauh-jauh hari ini ternyata adalah tindakan yang sangat tepat.

Tak terasa, akhirnya bus sampai juga di Night Safari. Setelah brief singkat dari Kumar yang meminta agar semua peserta tour ngumpul lagi tepat waktu agar tidak ketinggalan bus, kami semua lalu memasuki kompleks Night Safari. Di dalam, ternyata…ya ampun! sudah begitu banyak pengunjung antri untuk naik ke kendaraan yang akan membawa pengunjung keliling melihat koleksi binatang-binatang malam yang ada di Night Safari.

Sayang sekali, ternyata pengunjung dilarang memotret binatang-binatang yang ada di sana. Mungkin takut mereka stress kali, seperti artis yang dikejar-kejar paparazzi.