Minggu lalu, seorang legenda musik Indonesia, Chrisye, akhirnya berpulang ke rahmatullah setelah selama dua tahun terakhir berjuang melawan penyakit kanker yang dideritanya.
Bersama dengan Fariz RM, lagu-lagu alm. Chrisye telah mewarnai perjalanan hidup saya sepanjang era ‘80-an. Mendengarkan lagu-lagunya selalu mengingatkan saya pada banyak nostalgila jaman SD-SMP-SMA dulu, jaman ketika anak sekolah kelas 1 SMA harus tunggu dua atau tiga tahun lagi baru bisa “begitu-begini”
Jadi meski ogah-ogah mengakui kedua orang ini sebagai salah dua musisi favorit, toh karya dan kiprah mereka sudah menjadi bagian dari hidup saya di masa-masa yang kata orang paling endangg…!
Yang paling menonjol dari alm. Chrisye adalah konsistensinya untuk menekuni karier sebagai penyanyi. Sementara penyanyi-penyanyi pria lain seangkatannya- termasuk Fariz- banyak yang sudah jarang bahkan tidak pernah lagi tampil menyanyi di muka publik, alm. sampai tahun lalu masih mau tampil menyanyi bersama grup band yang para personelnya jauh lebih muda.
Sungguh suatu hal yang langka di jaman serba digital yang rusuh riuh rendah seperti sekarang ini, dimana kebanyakan orang- termasuk saya- sering tergoda untuk ingin cepat sukses-cepat kaya, pindah-pindah karir, gonta-ganti bisnis, gonta-ganti istri (eh, nggak koq, say…just heureuy…you know me, toh
)
Kenyataan yang juga menarik adalah meski sangat konsisten (hanya menjadi penyanyi pria dengan karakter suara dan gaya panggung yang tidak banyak berubah selama lebih dari 30 tahun) tapi alm. mampu mengikuti tren perkembangan musik sesuai jamannya secara pas. Dan ini yang membuatnya terasa selalu up-to-date, sehingga bisa diterima oleh berbagai generasi.
Dari alm. Chrisye ini saya belajar bahwa untuk bisa berhasil dalam satu bidang perlu kesabaran, konsistensi dan inovasi terus menerus. Perlu bekerja sama dengan orang-orang yang terbaik di bidangnya. Juga perlu kecintaan, dedikasi dan profesionalisme pada pilihan/panggilan hidup.